Senin, 20 September 2021

BAHASA INDONESIA DAN ASAL USUL NYA

1.             Bahasa Indonesia adalah standarisasi dari Bahasa Melayu, tepatnya bahasa Melayu dari dialek Riau, yang digunakan sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara Indonesia. Bahasa Melayu sebelumnya digunakan sebagai lingua franca perdagangan di Nusantara dari masa kerajaan Sriwijaya dan kesultanan Malaka.

         Pada Sumpah Pemuda tahun 1928, bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa persatuan dan setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa negara dalam UUD 1945 pasal 36.

2.               Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi).

3.             Hakikat bahasa adalah dasar (intisari) atau kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya) dari sistem lambang bunyi tersebut. Berikut beberapa hakikat bahasa:  - Bahasa itu adalah sebuah sistem, yang  memiliki susunan teratur berpola membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi.

- Bahasa itu berwujud lambang, kata atau gabungan kata dalam bahasa terdiri atas lambang-lambang bunyi, contohnya adalah huruf a-z dalam alphabet.

- Bahasa itu bersifat arbitrer, dipilih secara acak tanpa alasan tetapi berdasarkan kebiasaan.

- Bahasa itu bermakna, kata atau morfem pada dasarnya telah memiliki makna, namun jika disusun dalam kalimat tidak bermakna maka kalimat tersebut bukanlah bahasa. Oleh karena itu, segala ucapan yang tidak bermakna bukanlah bahasa.

- Bahasa itu bersifat konvensional, bahasa haruslah mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jika tidak dipatuhi maka akan terjadi hambatan komunikasi yang terjadi karena hambatan bahasa.

- Bahasa itu bersifat unik, atau memiliki ciri khas spesifik yang tidak dimiliki oleh bahasa lain.

- Bahasa itu bersifat universal, meskipun unik bahasa tetap memiliki ciri sama yang dimiliki oleh semua bahasa di dunia.

- Bahasa itu bersifat produktif, artinya bahasa banyak menghasilkan unsur-unsur yang tidak terbatas jumlahnya.

- Bahasa itu bervariasi, suatu bahasa dapat memiliki bermacam idiolek, dialek, dan ragam yang berbeda (Chaer, 2012). Idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat pada suatu tempat tertentu.

- Bahasa itu bersifat dinamis, perkembangan budaya suatu masyarakat bahasa akan berakibat pula pada perkembangan bahasanya.

- Bahasa itu bersifat manusiawi, Binatang tidak dapat menyampaikan konsep baru atau ide baru dengan alat komunikasinya, Karena binatang tidak dianugerahi akal budi bahasa yang menyamai manusia

4.      bukti sejarah keberadaan bahasa Melayu di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasasti ini mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan bahasa Melayu. Prasasti-prasasti ini antara lain:

1. Kedukan Bukit (683 M)

2. Talang Tuwo (684 M)

3. Kota Kapur (686 M)

4. Karang Brahi (686 M)

5. Gandasuli (832 M)

6. Bogor (942 M)

7. Pagaruyung (1356)


5.             Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda. Pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan, ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945. Pada Bab XV, Pasal 36, ditetapkan secara sah bahwa bahasa Indonesia ialah bahasa negara. isi sumpah pemuda juga berisi bahwa berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia.


6.        Kongres  1. Kongres ini dilaksanakan di Solo pada tanggal 25—27 Junii 1938, 10 tahun setelah Sumpah Pemuda diikrarkan. Gagasannya ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa waktu itu bahasa Indonesia belum dipakai secara luas dan tidak adanya pedoman yang baik bagi para pemakai bahasa.

Kongres 2. pada 28 Oktober—2 November 1954. Pembukaan Kongres Bahasa Indonesia II ini diresmikan langsung oleh Presiden I Republik Indoensia Ir. Soekarno dan dihadiri 302 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kongres 3. Seiring peringatan Hari ke-50 Sumpah Pemuda, Kongres Bahasa Indonesia digelar lagi di Jakarta pada 28 Oktober—3 November 1978. Tujuan Kongres Bahasa Indonesia III ini adalah untuk memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa nasional (sesuai dengan semangat dan isi Sumpah Pemuda tahun 1928) maupun sebagai bahasa negara (sesuai dengan UUD 1945, Bab V, Pasal 36).

Kongres 4. Pada Kongres Bahasa Indonesia IV yang diselenggarakan di Jakarta pada 21—26 November 1983, jumlah peserta mencapai 485 orang yang umumnya berasal dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Kongres ini diketuai Prof. Dr. Amran Halim dan dibantu beberapa anggota panitia lainnya termasuk A. Latief, M.A. sebagai Wakil Ketua.

Kongres 5. Seiring peringatan Hari ke-60 Sumpah Pemuda, Kongres Bahasa Indonesia V digelar di Jakarta pada 28 Oktober—3 November 1988. Kongres ini bertujuan memantapkan bahasa Indonesia sehubungan dengan perannya untuk memperlancar usaha pencerdasan bangsa, sebagai jembatan untuk mencapai kesejahteraan sosial yang adil dan merata. Kongres yang diikuti 819 peserta ini mengusung tema ”Menjunjung Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan dalam Konteks Pembangunan Nasional”.

Kongres 6. Kongres Bahasa Indonesia VI diselenggarakan pada 28 Oktober sampai dengan 2 November 1993, di Hotel Indonesia Jakarta. Kongres yang diketuai Dr. Hasan Alwi ini membahas lima masalah terkait kebahasaan dan kesastraan.

Kongres 7. Kongres Bahasa Indonesia VII lebih memfokuskan pada peran bahasa dan sastra dalam era globalisasi. Kongres yang diselenggarakan di Jakarta 26—30 Oktober 1998 bertepatan peringatan 70 tahun Hari Sumpah Pemuda.

Kongres 8. Kongres Bahasa Indonesia VIII juga diselenggarakan di Jakarta pada 14—17 Oktober 2003, di Hotel Indonesia. Pelaksanaan kongres ini dilatarbelakangi oleh komitmen untuk memantapkan posisi bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa dan alat pemersatu berbagai kelompok etnis ke dalam satu kesatuan bangsa di tengah terjadinya berbagai perkembangan dan perubahan di dalam kehidupan masyarakat Indonesia sebagai akibat bergulirnya gerakan reformasi yang terjadi sejak 1998.

Kongres 9. pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta. Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri.


Kongres 10. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, akan menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia X pada hari Senin—Kamis, 28—31 Oktober 2013, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Kongres 11. Kongres Bahasa Indonesia (KBI) XI yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 28—31 Oktober 2018 mengusung tema “Menjayakan Bahasa dan Sastra Indonesia”. Kongres Bahasa Indonesia XI Tahun 2018 menghadirkan 27 orang pembicara kunci dan undangan, serta 72 pemakalah seleksi yang berasal dari dalam dan luar negeri. Peserta yang akan mengikuti kongres tersebut berjumlah 1.031 orang yang terdiri atas para pemangku kepentingan, seperti pejabat publik, akademisi, budayawan, tokoh pegiat, pakar, guru, praktisi/pemerhati bahasa dan sastra Indonesia serta daerah, serta para tamu undangan.

7.            1. Keindahan

Bahasa pada hakikatnya adalah bunyi yang memiliki kandungan irama, dinamik, dan tempo. Yang merupakan unsur pokok dalam seni. Dan apabila ketiganya digabungkan akan terciptanya keindahan suatu bunyi.

2. Manusiawi

Bahasa adalah bunyi-bunyi yang di ujarkan oleh pengguna. Hanya manusia yang dapat menggunakan dan mengembangkan bahasa.

3. Produktif

Manusia adalah mahluk yang berakal budi. Dengan akal budinya manusia dapat mengubah susunan bunyi tersebut menjadi bahasa yang berbeda. Perbedaan bunyi tersebut membuat bahasa memiliki sifat produktif.

4. Dinamis

Manusia cenderung tidak menyukai sesuatu yang bersifat tetap atau statis. Demikian pula dengan bahasa yang digunakanya,, seringkali bahasa khususnya kata dapat berubah makna karena keinginan penggunanya.

5. Variatif

Perbdaan karakter antar manusia menyebabkan penggunaan bahasa secara berbeda pula. Perbedaan didalam menggunakan bahasa dapat menyebabkan munculnya ragam atau variasi bahasa.

6. Konvensional

Bahasa memeiliki sistem. Sistem tersebut disepakati oleh para pengguna bahasa yaitu manusia.

7. Arbiter

Pemberian nama terhadap suatu benda misalkan dilakukan secara makna suka atau secara penyebutan yang mudah oleh pengguna bahasa.


8.     FUNGSI BAHASA

Secara umum fungsi bahasa adalah sebagai alat  Komunikasi/ wahana komunikasi bagi manusia, baik komunikasi  lisan maupun komunikasi tulis.  Fungsi ini adalah fungsi dasar bahasa yang belum  dikaitkan dengan status dan nilai-nilai sosial.

         INFORMASI

         EKSPRESI DIRI

         ADAPTASI DAN INTEGRASI

         KONTROL SOSIAL

PENTINGNYA BELAJAR BAHASA INDONESIA

PENTINGNYA BELAJAR BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang digunakan oleh semua warga negara Indonesia yang terdiri dari berbagai daerah dan berbagai macam bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu dalam berkomunikasi dengan masayarakat dari daerah yang berbeda, contohnya saja ketika saya bertemu teman baru mahasiswa.

Bahasa Indonesia memiliki peranan dan fungsi yang tentu saja besar dikarenakan bahasa Indonesia adalah bahasa Negara kita sendiri, yakni sebagai

1. Alat Ekspresi Diri

2. Alat Komunikasi

3. Alat Integrasi dan

4. Adaptasi Sosial

5. Alat Kontrol Sosial

6. Rasa Nasionalis dan cinta bangsa Indonesia

 Belajar bahasa pada hakikatnya belajar komunikasi. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995) mengatakan “Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis”. Dalam hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pembelajar bahasa indonesia diarahkan ke dalam empat aspek, yaitu menyimak, mambaca, berbicara dan menulis.

BAHASA INDONESIA DAN ASAL USUL NYA

1.               Bahasa Indonesia adalah standarisasi dari Bahasa Melayu, tepatnya bahasa Melayu dari dialek Riau, yang digunakan sebagai ba...